DATA GURU DAN STAFF

Berita


Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Berbasis Paradigma Baru, SMA Negeri 1 Sabu Tengah Gelar IHT Komprehensif

SABU TENGAH, SMAN 1 SABU TENGAH – Dalam upaya berkesinambungan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menyelaraskan proses pembelajaran dengan regulasi pendidikan terbaru (Permendikdasmen), SMA Negeri 1 Sabu Tengah sukses menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT). Kegiatan yang berlangsung khidmat dan produktif ini mengusung tema "Penguatan Kompetensi Guru dalam Implementasi Pembelajaran Mendalam, Asesmen yang Berkualitas, dan Kokurikuler untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran".

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yakni pada tanggal 01 dan 03 Oktober 2026, dengan melibatkan seluruh guru SMA Negeri 1 Sabu Tengah. Pihak sekolah juga menghadirkan Korwas Dikmen Kabupaten Sabu Raijua, Bapak Jermias Henuk, S.Pi., sebagai narasumber dan pemateri utama, serta dua Fasilitator Daerah (Fasda), Bapak Gabriel Kueain, S.Pd., Gr. dan Bapak John E. Bangngu, S.Pd., Gr.

Sinergi Pembukaan: Menjadikan Murid Sebagai Subjek

Acara diawali dengan laporan dan sambutan dari Kepala SMA Negeri 1 Sabu Tengah, Ibu Dintje A. Djede Bire, S.Pd. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa perangkat pembelajaran yang disusun dari waktu ke waktu harus benar-benar diimplementasikan secara mendalam di ruang kelas, bukan sekadar pemenuhan administrasi. Beliau berharap supervisi akademik dapat dijadikan wadah belajar kolaboratif yang nyaman bagi guru demi memahami kebutuhan nyata para murid.

Lebih lanjut, Ibu Dintje menganalogikan bahwa program intrakurikuler berfokus pada pengisian pemikiran (isi kepala), sedangkan kokurikuler dirancang untuk melatih keterampilan (isi tangan) dan penjiwaan karakter (isi hati) agar anak-anak memiliki kebiasaan positif.

Kegiatan ini kemudian dibuka secara resmi oleh Korwas Dikmen Kabupaten Sabu Raijua, Bapak Jermias Henuk, S.Pi. Dalam arahannya, beliau mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir guru dalam mengelola seluruh ekosistem sekolah. Beliau menegaskan bahwa intisari dari Kurikulum Merdeka adalah menempatkan murid sebagai subjek utama dalam setiap proses pembelajaran.

Rangkaian Agenda dan Praktik Dua Hari

Secara garis besar, agenda pada hari pertama dan kedua memiliki pola yang sama, yaitu pelaksanaan praktik mengajar (real teaching) langsung di dalam kelas yang dilanjutkan dengan sesi evaluasi mendalam. Evaluasi tersebut menggabungkan refleksi Mandiri 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan) oleh guru pengajar serta pemberian umpan balik komprehensif oleh tim supervisor.

Meskipun polanya serupa, terdapat perbedaan fokus materi penguatan pada masing-masing hari:

Hari Pertama: Kegiatan diawali dengan pembacaan jadwal oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Bapak Melki G. Leo Ere, S.Pd., Gr. Fokus hari pertama adalah penguatan perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran, yang meliputi materi sinkronisasi indikator pembelajaran, langkah-langkah pengelolaan kelas, serta penerapan strategi coaching. Setelah pematerian, para guru langsung melakukan praktik mengajar di kelas dengan disaksikan oleh tim supervisor di bawah pimpinan Korwas Dikmen Kabupaten Sabu Raijua, Kepala Sekolah, para Fasda, dan enam orang guru senior.

Hari Kedua: Fokus agenda bergeser pada penguatan materi asesmen yang berkualitas dan program kokurikuler. Pada sesi ini, ditekankan pentingnya melibatkan murid dalam merancang kegiatan kokurikuler untuk melatih cara berpikir kritis dan kreativitas mereka. Sama seperti hari sebelumnya, materi ini langsung diuji coba melalui praktik mengajar dan disusul dengan evaluasi total di akhir kegiatan.

Sesi Evaluasi Mendalam Berbasis Refleksi 4P dan Umpan Balik

Refleksi Guru

Dari hasil praktik mengajar selama dua hari, para guru menyampaikan beberapa poin refleksi penting:

Antusiasme dan Tantangan Baru: Guru merasa sangat senang, bahagia, sekaligus tertantang melihat anak-anak antusias memperagakan materi, aktif berdiskusi kelompok, serta merespons teknik pembelajaran baru yang diterapkan.

Keterbukaan untuk Berkembang: Para guru menyatakan perasaan siap dan berlapang dada untuk menerima segala koreksi, masukan, maupun kritik konstruktif dari observer demi peningkatan kompetensi pribadi.

Kendala Teknis di Lapangan: Sebagian guru merefleksikan adanya rasa gugup saat diobservasi. Ditemukan pula kendala manajemen waktu, seperti alokasi waktu literasi yang terganggu karena jadwal istirahat yang bergeser, serta adanya ketimpangan pemahaman materi di mana ada siswa yang belajar sangat cepat dan ada yang lambat.

Kendala Partisipasi Siswa: Dalam kerja kelompok, guru mendapati bahwa meski hasil diskusi sudah bagus, sebagian siswa—terutama siswa perempuan—masih merasa malu untuk maju mempresentasikan hasil kerja, sehingga instruksi harus dimodifikasi secara spontan agar siswa laki-laki memimpin presentasi. Guru juga menyadari pentingnya menaruh penjelasan manfaat pembelajaran dan motivasi di awal sesi.

Umpan Balik oleh Observer

Berdasarkan hasil pengamatan langsung di dalam kelas, tim supervisor dan narasumber memberikan umpan balik komprehensif sebagai dasar perbaikan:

Reposisi Peran Guru: Penguasaan kelas para guru dinilai sudah sangat luar biasa. Namun, observer mengingatkan agar guru jangan menjadi satu-satunya sumber informasi di kelas. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memancing anak-anak mencari informasi secara mandiri, berpikir kritis, dan memberikan hak serta kesempatan presentasi yang adil bagi seluruh siswa.

Kesesuaian Model dan Media Pembelajaran: Model pembelajaran harus disesuaikan secara logis dengan karakteristik materi ajar. Sebagai contoh, jika materi memerlukan demonstrasi fisik (seperti teknik dasar olahraga bola), pembelajaran harus dilakukan di lapangan terbuka dengan alat peraga yang konkret, bukan sekadar menonton video di ruang kelas. Kualitas media berbasis teknologi juga harus diperhatikan agar visualisasi dan suara dapat diakses dengan jelas oleh seluruh siswa.

Struktur Pembelajaran dan Efisiensi Waktu: Penyampaian materi pembelajaran harus ditata lebih sistematis agar alokasi waktu tidak molor. Guru diharapkan tidak terburu-buru mengejar ketuntasan materi tanpa memedulikan kesiapan awal dan tingkat pemahaman siswa. Penerapan strategi mengajar yang menggembirakan seperti ice breaking berdurasi pendek sangat disarankan untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan tanpa tekanan.

Penguatan Instrumen Asesmen: Nilai sumatif bukanlah satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa. Observer menekankan agar guru selalu membawa dan menerapkan instrumen penilaian sikap yang jelas (seperti rubrik ceklist) untuk mengukur indikator karakter, misalnya kerja sama siswa saat berdiskusi. Pertanyaan pemantik di awal kelas juga harus didesain lebih tajam dan menantang analisis berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa, bukan sekadar pertanyaan hafalan.

Komitmen Penutup: Melangkah dengan Cinta dan Konsistensi

Kegiatan IHT ditutup secara resmi oleh Bapak Korwas Dikmen Kabupaten Sabu Raijua. Dalam pesan penutupnya, beliau mengajak seluruh elemen sekolah untuk membangun kerangka pembelajaran berbasis cinta. Beliau berpesan agar rekomendasi evaluasi dua arah ini dijadikan pijakan untuk melangkah maju, merancang program-program baru, serta melakukan gebrakan positif yang konsisten di sekolah.

Pihak manajemen SMA Negeri 1 Sabu Tengah bersama seluruh dewan guru menyatakan komitmen penuh untuk menjaga konsistensi belajar (kontinu), meregulasi diri, dan merawat iklim akademik yang sehat demi melahirkan pertumbuhan pembelajaran yang bermakna bagi seluruh anak didik.

"Bergerak Bersama, Mengajar dengan Hati: Wujudkan Pembelajaran Mendalam dan Bermakna di SMA Negeri 1 Sabu Tengah!"